Sec@Ngkir JOgja

“Kota Yogya menyimpan harapan dan masa depan para seniman muda seperti kami. Selain menjanjikan keunikan, kota ini pun sebagai sumber inspirasi tiada batas.” Kata-kata itu meluncur dari mulut Rain Rosidi, kurator pameran delapan pelukis Yogya di Galeri Soka, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pekan lalu.

Pameran bertajuk “Shifting Sign: A Cup of Jogja on Canvas” itu berlangsung pada 16-31 Juli 2008. Kedelapan pelukis muda itu adalah Aji Yudalaga, Iqrar Dinata, Wibowo Adi Utomo, Idi Pangestu, Rifqi Salta, Zulfirmansyah, Riki Antoni, dan Mulyo Gunarso.

Pameran ini mengangkat perihal Kota Yogya berikut dinamika dan romantikanya. Menurut Rain, karya-karya itu merupakan antologi dan catatan pribadi tiap-tiap seniman Yogyakarta. “Setiap pribadi akan memperlihatkan keunikannya dalam memaknai Yogya,” kata Rain, yang pernah kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Beragam wujud dituangkan ke atas kanvas. Mereka mengambil motif desain, lanskap, obyek, dan sebagainya. “Kedekatan sesama pelukis membawa semangat yang sama, namun berbeda dalam perwujudan karyanya.” ujarnya. Pada pameran ini, Rain menambahkan, mereka menangkap tanda-tanda yang telah ditelikung, dimainkan, dan dibongkar kembali dalam makna dan persepsi yang berbeda.

Tengok, misalnya, karya-karya Wibowo Adi Utama. Pelukis kelahiran 5 April 1980 ini menyajikan motif tribal yang disisipkan ke dalam tubuh-tubuh manusia. Motif ini dikenal sebagai identitas masyarakat indigenous. Dalam masyarakat kontemporer, motif ini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan masa kini.

Tanda yang sebelumnya berkaitan dengan pembedaan identitas suku tertentu direproduksi dalam bentuk lain untuk menampilkan gaya hidup baru masyarakat. Bahkan tribal hadir dalam industri produksi populer, seperti fashion dan tato, yang dianggap mewakili tanda hidup tubuh manusia post modern.

Pada karyanya berjudul The Day with Red Shoes #1 dan #2, Wibowo menampilkan tanda itu pada sepatu merah perempuan. “Sepatu merah membawa makna konotatif dari berbagai tampilan citra. Karya ini mengisahkan sebuah catatan harian sensual perempuan tentang cintanya, passion, dan perselingkuhan,” kata Wibowo, alumnus Fakultas Seni Rupa ISI.

Sementara itu, Aji Yudalaga mengangkat karya hasil pengumpulan tanda-tanda yang berseliweran di sekitar dirinya. Karya berjudul Seonggok Keindahan itu berisi gambar seekor ikan koi Jepang warna merah, putih, dan hitam yang bagian badannya terbungkus kertas putih. “Saya hanya ingin membebaskan diri pada permainan idiom, tanda-tanda rupa atau visual yang saya temui,” ucap pelukis kelahiran 20 Agustus 1980 ini.

Pelukis Mulyo Gunarso menggunakan bulu sebagai tanda visual dalam lukisan berjudul Terbakar Jadi Bulu. Ia menggambarkan sebuah apel berwarna merah dan hijau yang sebagian kulitnya digambarkan berupa bulu-bulu unggas halus. “Saya hanya ingin menyajikan sisi kelembutan yang sering diidentikkan sebagai sikap asli orang Yogya.” HADRIANI P


info tempo interaktif

~ oleh dhieeewhe pada 24 Juli 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: