Hari Rabu Awal Puasa bagi Warga Aboge

Meski pemerintah menetapkan awal bulan suci Ramadhan jatuh pada 1 September 2008, namun warga yang masuk komunitas Aboge di Desa Tegal Weru dan Petungsewu Kecamatan Dau Kabupaten Malang baru mulai puasa hari Rabu (3/9) besok.

Salah seorang warga Dewa Petungsewu Kecamatan Dau Kabupaten Malang, Sugito, Selasa, mengakui, dua desa tersebut memang tidak mau menjalankan ibadah puasa Ramadhan selain hari Rabu Wage (Aboge) termasuk hari raya Idul Fitri juga harus hari Rabu.

“Kepercayaan yang dianut oleh warga Desa Petungsewu ini sudah sejak zaman kerajaan Majapahit sehingga hitungan untuk menentukan tanggal bulan Suci Ramadan berbeda dengan hitungan rukyat dan hisab dan kepercayaan ini tetap dianut oleh masyarakat Desa Petungsewu hingga sekarang,” katanya di Malang.

Ia mengatakan, kepercayaan untuk melaksanakan rukun Islam keempat itu tidak menyimpang dari ajaran Islam. Namun yang membedakan hanya menentukan tanggal dan harinya saja, namun soal bulan pelaksanaan puasa tetap sama yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

Ia mengakui, kepercayaan yang dianut oleh komunitas Aboge ini tidak boleh melaksanakan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri selain Rabu dan jika dilanggar, maka yang bersangkutan akan mendapatkan balak (celaka) dari sang pencipta jagad.

Menurut dia, warga penganut Aboge setiap harinya juga menjalankan ibadah shalat wajib lima waktu dan syarat shalat juga tidak menyimpang dari ajaran Islam, tetapi komunitas Aboge masih terbawa dengan ajaran kejawen (Jawa).

Karena masih terbawa ajaran Jawa itu, katanya, maka bila melakukan kegiatan keagamaan selalu dengan perhitungan Jawa yang tidak mengikuti perhitungan kalender umum termasuk dalam melakukan setiap pekerjaan, hitungan itu untuk mendatangkan rezeki.

Menanggapi adanya komunitas Aboge tersebut Sekertaris Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab Malang Drs KH Abdul Mudjib Sadeli MSi (Gus Mudjib) mengatakan, komunitas Aboge yang akan menjalankan ibadah puasa Ramadan pada hari Rabu besok (3/9) adalah hak pribadi.

Akan tetapi yang terpenting, katanya, tidak menyimpang dari ajaran Islam, karena dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat terkait penentuan tanggal dan hari, memang sulit menyamakannya, sebab mereka juga tidak berani melanggar ajaran kepercayaan yang dianut ratusan tahun silam.

Menurut dia, selama masyarakat di sekitar desa tersebut tidak terganggu dengan aktivitas yang mereka lakukan, maka hal itu tidak ada masalah kecuali meresahkan masyarakat seperti aliran Achmadiyah yang memicu pertentangan diantara umat Islam.

“Kami berharap agar masyarakat yang lainnya bisa berpikir bijak, perbedaan dalam menganut kepercayaan harus juga dihargai, asalkan masih dalam koridor ajaran yang ada dalam Al-Quran,” katanya menegaskan.

Sumber : Ant

~ oleh dhieeewhe pada 2 September 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: