Mony3t teRk3c!L h!dup di hut@N Sulteng

Beratnya hanya sekitar 50 gram sehingga tarsius kerdil (Tarsius pumilus) sering dikenal sebagai monyet terkecil dunia meski sesungguhnya bukan termasuk monyet. Makhluk langka dan eksotis yang diduga hanya tinggal tersisa di hutan-hutan Sulawesi Utara ternyata masih hidup di Sulawesi Tengah.

“Ada banyak lusinan ekspedisi untuk mencarinya, semuanya gagal. Saya merasa harus pergi dan berusaha melihat langsung apakah mereka benar-benar ada atau telah punah,” ujar Sharon Gursky-Doyen, profesor antropologi dari Texas A&M University, AS.

Usaha Gursky-Doyen membuahkan hasil setelah proposal ekspedisinya didanai National Geographic. Setelah menunggu selama dua bulan, para ilmuwan berhasil menjerat empat ekor tarsius di rimbunnya hutan Gunung Rore Katimbo yang termasuk dalam Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Tarsius tak ditemukan lagi di kawasan tersebut selama 80 tahun terakhir.

Satu di antaranya berhasil lolos dari jeratan. Sementara ketiganya kembali dilepaskan setelah dikalungi pemancar radio agar dapat dilacak pergerakannya. Tak mudah menangkap primata yang besarnya tak lebih dari segenggam tangan sehingga saat memasang alat pelacak tersebut, Gursky-Doyen sempat digigit salah satu tarsius.

Meski ukuran tubuhnya kecil, tarsius memiliki mata besar. Sosoknya dipakai sebagai salah satu karakter dalam film Gremlin tahun 1984. Hewan tersebut termasuk jenis nokturnal atau aktif malam hari dan memangsa serangga.

Tarsius kerdil tak lagi ditemukan di Sulteng sejak tahun 1921 meski masih ada sekitar 1800-an di Sulawesi Utara. Pada tahun 2000, seorang ilmuwan Indonesia tanpa sengaja menemukannya dalam keadaan mati terjerat dalam jebakan tikus. Namun, sejak saat itu tidak pernah ada yang melihatnya hidup-hidup di kawasan tersebut.

Tim yang dipimpin Gursky-Doyen melihat tarsius pertama kali pada Agustus 2008 pada ketinggian 2000 meter. Habitat yang membuatnya bertahan saat ini masih berupa hutan lebat yang berkabut dan sangat dingin.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali interaksi antara penduduk dan hewan yang hidup di sekitar Lore Lindu,” ujar Gursky-Doyen. Hal tersebut merupakan cara mempertahanakn eksistensi satwa langka yang unik tersebut.

Sumber : National Geographic News

Iklan

~ oleh dhieeewhe pada 26 November 2008.

5 Tanggapan to “Mony3t teRk3c!L h!dup di hut@N Sulteng”

  1. gilee, kecil amat pasti ukurannya yaa..
    di kantongin aja muat nih,
    seandainya saya punya monyet seperti ini pasti saya sayangin dan saya ajarin macem2x mulai dari browsing sampe nge blog.. jadinya postingan saya bisa dibantu gitu … hehehhee 🙂

    thx atas infonya yaa, keep blogging !!

  2. weehh 🙂

    bisa-bisa nanti monyetnya ga bantu postingan bang rifai tapi malah punya blog sendiri

    ^_^

    wahh mungkin ga ya
    :mrgreen:

  3. weekss..keciiiiiLL ban9eed yakh?
    tap! k0K serem yaa?
    matana 9ede 9ituh?ituh kukuna ju9a putehputeh ya?

    eeeyyy..tatut akh..hiiyyyy

  4. hu uh kecil banget 🙂 8)

    yaa .. Tuhan itu memciptakan makhluk-Nya dengan kelebihan&kekurangan

    mungkin si tarsius ini matanya gede biar kelihatan klo dikegelapan 😀

    iya khan 🙂

  5. monyet purba kali yakz???
    hi5… 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: