Ponpes Untuk Waria Terima Santri Gay dan Lesbian

Ternyata ada juga ya ?? sebenarnya boleh nggak ya ?? 🙂 mmm … dhie bingung

Pondok pesantren (Ponpes) Senin-Kamis di Notoyudan, Kecamatan Ngampilan, Yogyakarta, bisa dibilang merupakan satu-satunya pesantren khusus bagi kaum waria atau banci di Indonesia.

“Waktu itu yang hadir di pengajian biasanya sekitar 100 jemaah. Dari jumlah itu, hanya saya yang waria, atau jemaah waria tunggal. Saya senang karena saya diterima di pengajian itu. Para jemaah tak mempersoalkan meski saya waria,” kenang Maryani .

Beberapa saat setelah aktif mengikuti pengajian KH Hamrolie itu,  Maryani –yang kala itu masih tinggal di Kampung Surakarsan, Jogjakarta– menggelar pengajian di rumahnya. Tapi masih pengajian umum, bukan pengajian khusus waria. Rata-rata jemaah umum yang hadir 50 orang. Sedangkan waria yang ikut datang hanya satu-dua orang.

Pengajian setiap malam Rabu Pon ini berlangsung lancar. Sampai kemudian, saat terjadi gempa di Jogjakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006, Maryani yang sudah bermukim di Notoyudan tergerak untuk mengundang para waria dari berbagai kota (antara lain Surabaya, Semarang, Solo, Madiun dan Ponorogo) guna diajak doa bersama. Saat itu hadir sekitar 30 waria.

“Setelah doa bersama di tempat saya, saya mengajak mereka mendatangi beberapa waria yang menjadi korban gempa, dan memberikan bantuan semampu kami,” kata Maryani.
Sesudah itu, Maryani yang pernah menjadi ketua Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) akhirnya menyelenggarakan pengajian khusus waria, pada setiap malam Rabu Pon.

Waria yang datang rata-rata antara 15-20 orang. Mereka berasal dari berbagi kalangan dan profesi, seperti pekerja salon, perancang busana, pengamen dan ‘pekerja malam’.

Mengetahui minat kaumnya ikut pengajian cukup tinggi, Maryani kemudian mendatangi  KH Hamrolie Harun, menyatakan hendak mendirikan sebuah ponpes khusus waria sekaligus minta bantuan sang kiai.

Gayung bersambut, KH Hamrolie bersedia memberi bantuan dalam bentuk mengirim para ustadz alias pengajar ke Ponpes Senin-Kamis, yang didirikan pada 26 Juli 2008 lalu.
Hingga kini tercatat ada 25 ustadz yang ditugaskan KH Hamrolie untuk bergantian membimbing para santri waria di Ponpes Senin-Kamis.

“Beliau punya perhatian besar, dan kadang-kadang juga hadir ke sini saat ponpes ada kegiatan. Namun tidak rutin. Mereka yang rutin datang ya 25 ustadz yang dikirim KH Hamrolie Harun, bergantian sesuai jadwal masing-masing,” paparnya.

Sebagai waria senior, Maryani memiliki pengalaman hidup yang panjang. Termasuk, keluar malam alias mencari pelanggan laki-laki hidung belang, mulai dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya (kawasan Jalan Ketabang Kali), Solo (kawasan Lapangan Manahan), hingga ke Jakarta (Taman Lawang). Dia juga pernah menjadi pengamen.

Pengalamannya itu menunjukkan bahwa waria perlu mencari makan sekaligus harus bekerja. Karena itulah, dia bisa menoleransi bila waria yang menjadi santri di ponpes-nya ternyata belum dapat meninggalkan kebiasaan buruk seperti keluar malam.

“Biar saja masih keluar malam meskipun mereka sudah menjadi santri di sini. Kalau saatnya tiba, dan karena dibimbing Allah, mereka pasti akan memutuskan tak keluar malam lagi,” tutur Maryani.
Maryani tak peduli bila ada orang yang menganggap bahwa dirinya –maupun para waria di ponpes– sebenarnya belum bertobat total karena masih memilih berjenis kelamin waria, bukan memilih menjadi laki-laki. Menurutnya, pilihan ini bukan urusan orang lain melainkan urusannya dengan Allah Sang Pencipta.

“Waria itu juga manusia. Waria juga perlu beribadah. Waria yang sudah tua seperti saya, sulit untuk kembali menjadi laki-laki. Tapi waria-waria yang masih kecil, yang masih muda-muda, bisa saja bertobat total dengan menjadi laki-laki lagi. Kalau memang ada santri di sini mau kembali menjadi laki-laki karena pintu tobatnya dibuka oleh Tuhan, monggo saja,” paparnya.

Selain aktif mengelola ponpes dan salon miliknya, Maryani kadang-kadang juga diundang ke berbagai acara yang berkaitan dengan masalah waria.

siang lalu, misalnya, setelah diwawancarai Surya, dia diundang Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jogjakarta membahas tentang peran banci yang marak di tayangan televisi swasta.

Lalu, apa yang masih menjadi obsesi Maryani?
“Saya ingin agar di kota-kota lain juga muncul pondok pesantren khusus waria seperti di tempat saya ini. Kalau perlu di seluruh kota di Indonesia. Supaya orang-orang tahu bahwa kaum waria juga perlu ibadah,” tegasnya.

info : surya

Iklan

~ oleh dhieeewhe pada 9 Desember 2008.

3 Tanggapan to “Ponpes Untuk Waria Terima Santri Gay dan Lesbian”

  1. emmm.. gimana ya..

  2. Mereka memang ada di sekitar kita, tapi tidak perlu bersikap berlebihan terhadap mereka.

    • iya .. mereka juga punya hak memilih jalan hidup mereka yang emng bner2 mereka yakini
      ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: