Gerhana Matahari Cincin pada 26 Januari

Gerhana Matahari cincin akan kembali terjadi pada 26 Januari 2009. Meski tidak seluruh tahapan, peristiwa kali ini dapat disaksikan dari wilayah Indonesia menjelang matahari terbenam.

Daerah yang dapat menyaksikan gerhana cincin secara penuh adalah Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Sedangkan wilayah-wilayah lainnya hanya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan penutupan piringan matahari lebih dari 50 persen.

“Di Jakarta, yang teramati adalah gerhana matahari sebagian dengan penutupan piringan matahari 91 persen. Gerhana mulai 15.20-17.50 WIB,” kata Thomas Djamaluddin, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) saat dihubungi di Bandung, Kamis (22/1).

Ia mengatakan gerhana juga dapat disaksikan di Bandung dan daerah sekitarnya pada saat yang hampir bersamaan. Untuk daerah-daerah lain di Indonesia, waktu gerhana sekitar waktu itu plus-minus 10 menit, yang dapat disaksikan selama 1-6 menit.

Thomas Djamaludin juga mengingatkan agar gerhana matahari ini tidak dilihat langsung dengan mata telanjang meski gerhana matahari cincin relatif lebih aman daripada gerhana matahari total, berhubung perubahan kecerlangannya tidak sedrastis gerhana matahari total.

Gerhana matahari cincin, ujarnya, terjadi pada saat piringan matahari tidak tertutup penuh oleh piringan bulan sehingga tampak seperti cincin yang melingkari bulan yang tampak gelap.

“Jadi pada saat gerhana matahari cincin, tidak akan gelap seperti malam seperti pada gerhana matahari total. Pada gerhana matahari cincin kali ini penutupan bagian tengah piringan matahari sekitar 93-96 persen,” katanya.

Pada 26 Januari 2009, jarak matahari dari bumi 0,985 Satuan Astronomi (SA), lebih dekat dari rata-ratanya sejauh 1 SA atau 150 juta km. Akibatnya, diameter sudut matahari lebih besar dari rata-rata sekitar 0,5 derajat.

Sedangkan bulan berjarak 401.915 km dari bumi, yang berarti lebih jauh dari rata-ratanya sejauh 384.000 km. Akibatnya, diameter sudut bulan menjadi lebih kecil dari rata-ratanya.

“Saat itu, diameter matahari 32 derajat 32 menit dan diameter sudut bulan 29 derajat 43 menit,” katanya.

info : Antara

~ oleh dhieeewhe pada 22 Januari 2009.

7 Tanggapan to “Gerhana Matahari Cincin pada 26 Januari”

  1. neng jogja kok raono?

  2. rapopo ra ono
    nek ndelok lali ra nganggo kocomoto
    gawat engko
    :mrgreen:

  3. Medan juga enggak ada yah, tapi medan mendung terus sih

  4. Wah…, gerhana mataharine nyampe Kalimantan Timur juga yo Dhieee. Enak’e nganggo kocomoto opo nak pingin ndelok gerhanane? Opo nganggo kocomoto jaran? Wekekekeke….

  5. => Erwin
    hihihhihihiiiii … klo mendung jd ga kelihtn ya ??

    => Johan
    ckcckcckcckkkk … rapo2 nek bang johan punya:mrgreen:

  6. jam 3 nih katanya dipalembang….
    tapi kok mendung kayak mau ujan yah…
    hehehehe

  7. kak galih bisa lihat ga ??

    heee …
    di jogja
    heee .. dhie bo2:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: